Kamis, 19 Maret 2015

KONSEP SEHAT SAKIT



A.        DEFINISI SEHAT  MENURUT :
  1. WHO ( 1947 )
-          Sehat Þ suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
-          Mengandung tiga karakteristik :
a.       merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia
b.      memandang sehat dalam konteks lingkungan internal ataupun eksternal
c.       sehat diartikan sebai hidup yang kreatif dan produktif
  1. President’s Communision On Health Need Of Nation Stated ( 1953 )
-          Sehat  Þ bukan merupakan suatu kondisi, tetapi merupakan penyesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan suatu proses
-          Proses adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka, tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
  1. Pender ( 1982 )
-          Sehat Þ aktualisasi ( perwujudan ) yang diperoleh individu melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain, perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten. Sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas sosial.
-          Definisi sehat menurut Pender ini mencakup stabilitas dan aktualisasi
  1. Payne ( 1983 )
-          Sehat Þ fungsi efektif  dari sumber-sumber perawatan diri ( Self Care Resources ) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( Self Care Action ) secara adekuat.
-          Self Care Resources Þ mencakup pengetahuan,ketrampilan dan sikap
-          Self Care Action Þ perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlakukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi, psikososial dan spiritual.
  1. Menurut Perseorangan
-          Pengertian dan gambaran seseorang tentang sehat sangat bervariasi, persepsi



B.        FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIRI SESEORANG TENTANG SEHAT
  1. Status perkembangan
-          Kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan kemampuan berespon terhadap perubahan dalam kesehatan dikaitkan dengan usia.
-          Contoh : Bayi dapat merasakan sakit, tapi tidak dapat mengungkapkan dan mengatsainya.
-          Pengetahuan perawat tentang status perkembangan individu memudahkan untuk melaksanakan pengkajian terhadap individu dan membantu mengantisipasi perilaku-perilaku selanjutnya
  1. Pengaruh sosiokultural
-          Masing-masing kultur punya pandangan tentang sehat yang diturunkan dari orang tua pada anaknya.
-          Contoh : Orang Cina, sehat adalah keseimbangan antara Yin dan Yang
   Orang dengan ekonomi rendah memandang flu sesuatu yang biasa dan merasa sehat
  1. Pengalaman masa lalu
-          Seseorang dapat merasakan nyeri/sakit atau disfungsi ( tidak berfungsi ) keadaan normal karena pengalaman sebelumnya
-          Membantu menentukan defenisi seseorang tentang sehat
  1. Harapan seseorang tentang dirinya
-          Seseorang mengharapkan dapat berfungsi pada tingkat yang tinggi baik fisik maupun psikososialnya jika mereka sehat
C.         FAKTOR LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIRI
-          Bagaimana individu menerima dirinya dengan baik
-          Self Esteem. Body Image, kebutuhan peran dan kemampuan
-          Jika ada ancaman : anxiety ( cemas )


D.        DEFINISI SAKIT
Þ Defiasi/penyimpangan dari status sehat
  1. Parsors ( 1972 )
Sakit Þ Gangguan dalam fungsi normal individu sebagai totalitas, termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan penyesuaian sosialnya
  1. Baursams ( 1965 )
Seseorang menggunakan tiga criteria untuk menentukan apakah mereka sakit :
-          Adanya gejala : naiknya temperatur, nyeri
-          Persepsi tentang bagaimana mereka mersakan baik, buruk, sakit
-          Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari, bekerja atupun sekolah

E.         PENYAKIT
·         Istilah medis yang digambarkan sebgai gangguan dalam fungsi tubuh yang menghasilkan berkurangnya   kapasitas
·         Hubungan antara sehat, sakit dan penyakit
Pada dasarnya merupakan keadaan sehat dan sakit
-          Hasil intraksi sesorang dengan lingkungan
-          Sebagai manifestasi keberhasilan/kegagalan dalam berdaptasi dengan lingkungan
-          Gangguan kesehatan : ketidakseimbangan antara factor : Host-Agent-Environment

F.         FAKTOR YANG MENMPENGARUHI TINGKAH LAKU SEHAT
·         Sehat dan sakit berada pada suatu rentang dimana setiap orang bergerak sepanjang rentang tersebut
·         Rentang sehat sakit :
-          Suatu skala ukur secara relatif dalam mengukur keadaan sehat/kesehatan seseorang
-          Kedudukannya pada tingkat skala ukur : dinamis dan bersifat individual
-          Jarak dalam skala ukur : keadaan sehat secara optimal pada satu titik dan kematian pada titik lain.
·         Rentang sehat sakit menurut model “ Holistik Health “


G.        Tahapan Sakit :
1.       Tahap gejala
-          Tahap Transisi :
Þ Individu percaya ada kelainan dalam tubuhnya, merasa dirinya tidak sehat, merasa timbulnya berbagai gejala, merasa ada bahaya.
Þ Mempunyai tiga asapek :
Secara Fisik          : Nyeri, panas tinggi,
Kognitif     : Interpretasi terhadap gejala
Respon emosi      : Cemas
Þ Konsultasi dengan orang terdekat : gejala dan perasaan, kadang-kadang mencoba pengobatan di rumah.
2.       Tahap asumsi terhadap peran sakit ( Sick Role )
-          Penerimaan terhadap sakit
-          Individu mencari kepastian sakitnya dari keluarga atau teman : menghasilkan peran sakit
-          Mencari pertolongan dari profesi kesehatan yang lain, mengobati sendiri, mengikuti nasehat teman/keluarga.
-          Akhir dari tahap ini ditemukan bahwa gejala telah berubah dan merasa lebih baik.
Individu masih mencari penegasan dari keluarga tentang sakitnya.
Rencana pengobatan dipenuhi/dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman selanjutnya.
3.       Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan
-          Individu yang sakit          : meminta nasehat dari profesi kesehatan atas inisiatif sendiri
-          Tiga type informasi         :   Validasi keadaan sakit
    Penjelasan tentang gejala yang tidak dimengerti
          Keyakinan bahwa mereka akan sembuh/lebih baik
-          Jika tidak ada gejala        : Individu mempresepsikan dirinya telah sembuh, jika ada gejala kembali pada profesi kesehatan
4.       Tahap ketergantungan
-          Jika profesi kesehatan memvalidasi (memantapkan) bahwa seseorang sakit, orang akan menjadi pasien yang tergantung untuk memperoleh bantuan
-          Setiap orang mempunyai tingkat ketergantungan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan
-          Perawat mempunyai tugas        :
v  Mengkaji kebutuhan ketergantungan pasien dikaitkan dengan tahap perkembangan
v  Support terhadap perilaku yang mengarah pada kemandirian
5.       Tahap penyembuhan
-          Pasien belajar untuk melepaskan peran sakit dan kembali pada peran sehat dan fungsi sebelum sakit
-          Kesiapan untuk fungsi sosial
-          Perawat mempunyai tugas  :
a.       Membantu pasien untuk berfungsi dengan meningkatkan kemandirian
b.      Memberi harapan dan support

H.       PERILAKU PERAN SAKIT (SICK ROLE BEHAVIOUR)
Þ Kegiatan yang dilakukan oleh individu yang mempertimbangkan dirinya sakit. Dengan tujuan untuk memperoleh kesehatan
Þ Parsons  memandang ada empat aspek dari peran sakit :
a.       Klien tidak memegang tanggung jawab untuk kondisi mereka (selama sakit)
b.      Klien dibebaskan dari fuyngsi tugas dan sosial
c.       Klien diharuskan untuk berusaha memperoleh kondisi sehat secepat mungkin
d.      Klien dan keluarga harus mencari bantuan orang yang berkompeten

I.          DAMPAK SAKIT
Efek sakit terhadap anggota keluarga        :
a.       Perubahan peran
b.      Meningkatkan stress sehubungan dengan kecemasan tentang hasil dari penyakit dan konflik tentang ketidakbiasaan dan tanggung jawab
c.       Masalah keuangan
d.      Kesepian sebagai akibat dari perpisahan
e.       Perubahan dalam kebiasaan social


J.           DAMPAK DIRAWAT          
Efek dari hospitalisasi dapat mengganggu :
a.       Privacy seseorang
b.      Autonomy
Keadaan kemandirian dan mengatur diri sendiri tanpa adanya kontrol dari luar
c.       Gaya hidup
Adanya peraturan/ketentuan yang berlaku di RS
d.      Peran
e.       Ekonomi
Perawat dapat memberi support terhadap aktivitas yang meningkatkan kesehatan yang dapat mengembalikan klien terhadap aktivitas normal sesegera mungkin.

Rabu, 18 Maret 2015

STRUKTUR PAYUDARA




Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dan payudara ibu. Bayi menggunakan reflek menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa ASI adalah gizi terbaik untuk bayi. Para pakar masih memperdebatkan berapa lama periode menyusui yang paling  baik dan seberapa jauh risiko penggunaan susu formula.
Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau wanita lain. ASI juga dapat diperoleh dan diberikan melalui alat menyusui lain, seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Susu formula juga tersedia bagi para ibu yang tidak bisa menyusui atau memilih untuk tidak menyusui bayinya, namun para ahli sepakat bahwa kualitas susu formula tidak ada yang sebagik ASI. Pada banyak negara, pemberian susu formula  terkaitdengan tingkat kematian bayi akibat diare, tetapi apabila pembuatannya dilakukan dengan hati-hati dan bersih, susu formula cukup aman.
            Pemerintah dan organisasi international sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama atau bahkan lebih lama lagi. Organisasi tersebut antara lain WHO, American Academy of Oediatrics, dan Departemen Kesehatan.
STRUKTUR PAYUDARA
Anatomi Payudara
Kelenjar mamae atau payudara (buah dada) adalah perlengkapan pada organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Pada wanita, kelenjar mamae mulai berkembang pada umur 11-12 tahun. Kelenjar mamae tumbuh menjadi besar pada bagian lateral linea aksilaris anterior/media sebelah kranial ruang interkostalis III dan sebelah kaudal ruang interkostalis VII-VIII.
Gambar Anatomi Payudara
Kelenjar mamae terdapat di atas bagian luar fasia torakalis superfisialis di daerah jaringan lemak subkutia. Ke arah lateral sampai ke linea aksilaris media; ke arah medial melewati linea media mencapai kelenjar mamae sisi  yang lain; ke arah bawah mencapai daerah aksilia (lipatan ketiak).
Struktur Makrooskopis
Ada tiga bagian utama payudara, yaitu sebagai berikut:
1.      Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar
2.      Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah
3.      Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara. Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara, maka letaknya pun akan bervariasi pula. Pada tempat ini terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung saraf, pembuluh darah, pembuluh getah bening, serat-serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi, maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi, sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali puting susu tersebut.
Gambar struktur makroskopis payudara
Ada empat macam bentuk puting, yaitu bentuk normal/umum, pendek/datar,  panjang, dan terbenam (intervted). Namun, bentuk-bentuk puting ini tidak selalu berpengaruh pada proses laktasi karena pada dasarnya bayi menyusu pada payudara ibu bukan pada puting. Pada beberapa kasusu dapat terjadi di mana puting tidak lentur, terutama pada bentuk puting terbenam sehingga butuh penanganan khusus.
Gambar Bentuk puting
Struktur Mikroskopis
      Pada bagian dalam badan payudara terdapat bangunan yang disebut alveolus, yang merupakan tempat air susu diproduksi. ASI yang dihasilkan oleh alveolus dialirkan ke dalam saluran kecil (diktulus)  lalu  beberapa saluran kecil yang bergabung membentuk saluran yang lebih kecil (duktus). Pada bagian bawah areola, saluran yang besar ini mengalami pelebaran yang disebut sinus laktiferus.
      Akhirnya semua saluran yang besar ini terpusat di dalam puting dan bermuara ke luar. Pada bagian dalam dinding alveolus maupun saluran, terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar. Masing-masing lobus terdiri atas 20-40 labulus, selanjutnya masing-masing lobulus terdiri atas 10-100 alveoli. Bagian dalam alveoli terdiri atas duktulus terbuka, sel-sel kelenjar yang menghasilkan air susu dan mioepitelium yang berfungsi memeras air susu keluar dari alveoli.
      Pembuluh darah payudara berasal dari arteri mammaria interna da n arteri torakalis lateralis (artery thoracica lateralis). Vena superfisial mamae mempunyai banyak anastomosis bermuara ke vena mammaria interna dan vena ke vena lateralis (vena thoracica interna/epigastrika), sebagian besar bermuara ke vena torakalis lateralis (vena thoracica lateralis)
Pembuluh Limfe Mamae
1.      Aliranlimfe superfisilis 75% mengalir ke saluran torakalis berjalan bersama arteri dan vena di pinggir lateral muskulus pektoralis mayor (musculus pektoralis mayor) bermuara di nervus 11 aksilaris dan nervus supraklavikularis (nervus supraclavicularis).
2.      Aliran limfe profunda mengalir ke dinding toraks menembus muskulus pektoralis mayor bermuara ke nervus 11 pektoralis sepanjang arteri dan vena mammaria interna.
3.      Bagian medial aliran limfe subkutan berhubungan dengan kedua mamae dan bermuara ke nervus 11 supraklavikularis.
Tahap Perkembangan Payudara
      Pembentukan payudara dimulai sejak embria berusia 18-19 minggu dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon estrogen dan progesteron yang membantu maturasi ealveoli, sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.
      Saat lahir, sebagian besar payudara terdiri atas duktus laktiferus dengan jumlah sedikit, mungkin juga ada alveoli. Kelenjar mammae yang rudimeter ini memiliki sedikit fungsu sekretorik (air susu palsu) dalam beberapa hari setelah lahir. Sekresi payudara pada masa neonatal terjadi akibat kadar prolaktin yang tinggi pada bayi baru lahir  setelah pajanan payudara janin sebelumnya terhadap konsentrasi estrogen plasenta yang tinggi selama kehamilan. Setelah estrogen plasenta hilang dari sirkulasi neonatal, payudara memasuki fase tenang sampai pubertas. Pada onset pubertas, estrogen ovarium menginduksi pertumbuhan sistem duktus laktiferus.
      Duktus-duktus ini bercabang-cabang selama pertumbuhannya dan ujung duktus ini membentuk massa sel kecil dan padat. Struktur ini akan membentuk alveolus lobular. Payudara dan alveoli kemudian membesar. Saat menarche, skeresi estrogen  dan progesteron siklik dimulai dan akan terjadi fase tambahan pada pertumbuhan duktus dan lobulus yang rudimeter. Kortikosteroid adrenal selanjutnya akan meningkatkan perkembangan duktus. Payudara terus membesar selama beberapa waktu setelah menarche akibat timbunan lemak dan jaringan ikatan bahan. Diferensiasi dan pertumbuhan akhir payudara tidak akan terjadi sampai kehamilan.
      Pertumbuhan dan perkembangan payudara dapat dibagi menjadi empat fase yaitu istirahat, perkembangan (kehamilan), sekresi susu (laktasi), dan involusi. Saat lahir, struktur hanya sebuah puting payudara dan eberapa duktus rudimenter, dengan sedikit atau tanpa alveolus yang mencerminkan asal evolusi dari modifikasi kelenjar keringat apokria. Sampai pubertas, satu-satunya perkembangan yang mungkin terjadi adalah percabangan duktus. Penurunan insiden kanker payudara dapat terjadi pada populasi yang banyak mengonsumsi fito-estrogen merangsang perkembangan perkembangan sel payudara pada masa anak dan pubertas sebelum kehamilan. Sel yang berdiferensiasi baik ini mungkin lebih resisten terhadap pembentukan tumor (adlecreutz, 1995).
Kolostrum
Kolostrum adlaah cairan prasusu yang dihasilkan dalam 24-36 jam pertama setelah melahirkan (pasca melahirkan). Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibody yang paling tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya kandungan putih immunoglobin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga membantu bayi dalam mencegah alergi makanan.
            Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara. Klostrum mengandung jaringan debris dan material residual yang terdapat dalam alveoli, serta duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium.
            Beberapa manfaat kolostrum bagi bayi adalh sebagai berikut:
1.      Menjadi pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi yang akan dating
2.      Lebih banyak menagndung protein dibandingkan dengan ASI yang matur, tetapi berlainan dengan ASI yang telah matur, pada kolostrum protein yang pertama adalah globulin (gama globulin)
3.      Lebih banyak mengandung antibody disbanding dengan ASI yang matur sehingga dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai usia 6 bulan
4.      Kadar karbohidrat dan lemak rendah disbanding dengan ASI yang matur
5.      Mineral, terutama natrium, kalium, dan klorida lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu matur
6.      Total energy lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matur, hanya 58 kal/100 ml kolostrum
7.      Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASI matur, sedangkan vitamin yang larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah
8.      Bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan ASI matur tidak
9.      Kadar pH lebih alkalis dibandingkan dengan ASI matur
10. Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dan lesitin dibandingkan dengan ASI matur
11. Volume berkisar 150-300 ml / 24 jam
12. Terdapat tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis didalam usus bayi menjadi kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambahkan kadar antibody pada bayi,
Fisiologi laktasi
Laktasi berarti suatu proses prosuksi, sekresi dan pengeluaran ASI yang membutuhkan calon ibu yang siap secara psikologis dan fisik, kemudian bayi yang telah cukup sehat untuk menyusu serta produksi asi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi Dimana volume ASI 500-800 ml/hari.
            Ketika bayi mengisap payudara,hormone yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli melalui saluran susu menuju reservoir susu yang berlokasi di belakang areola lalu kedala mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai bulan ke tiga kehamilan dimana tubuh wanita memproduksi hormone yang menstimulasi munculnya ASI dalam system payudara.
            ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam organic yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makan utama bagi bayi. Sebagai persiapan menyongsong kelahiran bayi, perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan 7-8 memegang peranan penting dalam menentukan berhasilnya menyusui bayi. Payudarayang terawatt akan memproduksi ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Begitupula dengan perawatan payudara yang baik, ibu tidak perlu khawatir bentuk payudara akan cepat berubah sehingga kurang menarik. Dengan perawatan payudara yang baik, putting tidak akan lecet sewaktu dihisap bayi.
Siklus Laktasi
1.      Laktogenesis stadium 1 (kehamilan) : penambahan dan pembesaran lobulus alveolus.
2.      Laktogenesis stadium 2 (Akhir kehamilan sampai 2-3 hari postpartum) : produksi ASI.
3.      Laktogenesis stadium 3 (galaktopoeisis) : sekresi ASI
4.      Involusi (berkurangnya kelenjar mamae) : mulai 40 hari setelah berhenti menyusui.
Produksi Air Susu
Proses laktasi merupakan suatu intraksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormone. Salah satunya pembentukan kelenjar payudara, yang dibagi menjadi beberapa tahap, antara lain sebagai berikut:
1.      Sebelum pubertas
Duktur primer dan sekunder sudah terbentuk pada masa fetus. Mendekati pubertas terjadi pertumbuhan yang cepat dari system duktus terutama dibawah pengaruh hormone estrogen, sedangkan pertumbuhan alveoli pada hormone progesterone. Hormone yang ikut berperan dalam pertumbuhan kelenjar payudara adalah prolactin yang dikeluarkan oleh kelenjar adenohipofisis  (hipofisis anterior). Hormone yang kurang peranannya adalah hormone adrenalin, tiroid, paratiroid, dan hormone pertumbuhan
2.      Masa pubertas
Pada masa ini terjadi pertumbuhan percabangan-percabangan system duktus, proloferasi, dan kanalisasi dari unit-unit lobuloalfiola yang terletak pada ujung-ujung distal duktulus. Jaringan penyangga stroma mengalami organisasi dan membentuk septum interlobular.
3.      Masa siklus menstruasi
Perubahan perubahan kelenjar payudara wanita dewasa berhubungan dengan siklus memstruasi dan perubahan-perubahan hormonal yang mengatur siklus tersebut seperti estrogen dan progesterone yang dihasilkan korpus luteum. Bila kadar hormone ini meningkat, maka akan terjadi edema lobulus, penebalan dari basal membrane epitel dan keluarnya bahan dalam alveoli. Secara klinis akan dirasakan payudara berat dan penuh. Setelah menstruasi, dimana kadar esterogen dan progesterone berkurang, yang berperan hanya prolactin saja, terjadi degenerasi dan sel-sel kelenjar air susu beserta jaringan yang mengalami proliferasi, edema berkurang sehingga besarnya payudara berkurang namun tidak kembali besar seperti sebelumnya.hal ini menyebabkan payudara selalu bertambah besar setiap siklus ovulasi mulai dari permulaan tahun menstruasi sampai umur 30 tahun.
4.      Masa kehamilan
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari duktulus yang baru, percabangan – percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormone-hormon plasenta dan korpus luteum. Hormone-hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolactin, laktigen plasenta, korionik gonadroktopin, insulin, kortisol, hormone tiroid, hormone paratiroid dan hormone pertumbuhan.
5.      Pada 3 bulan kehamilan
Prolactin dari adenohipofisis (hipofisis anterior) mulai merangsang kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang disebut kolostrum. Pada masa ini, pengeluaran kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesterone, tetapi jumlah prolactin meningkat, hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan
6.      Pada trisemester kedua kehamilan
Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan kolostrum. Keaktifan dari rangsangan hormone-hormon terhadap pengeluaran air susu telah terbukti kebenarannnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada skema 6.1.

Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi, sedangkan ASI adalh cairan dengan komposisi khas untuk menjamin pertumbuhan optimal pada setiap spesies. Ketika bayi mengisap payudara, hormone yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari elveoli melalui saluran susu menuju reservoir yang berlokasi di belakang areola memalui saluran mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja melalui dari bulan ketiga kehamilan dimana tubuh wanita memproduksi hormone yang menstimulusasi munculnya ASI dalam system payudara.
Persiapan pemberian ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan, payudara semakin padat karena resentasi air, lemak, serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasa tegang dan sakit. Segera setelah terjadi kehamilan, maka korpus luteum berkembang terus dan menghasilkan esterogen dan progesterone untuk mempersiapkan payudara agar pada waktu memberikan ASI.
Hormone-hormon yang mempengaruhi pembentukan ASI adalah:
1.      Progesterone
Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesterone dan esterogen meurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulisasi produksi secara besar-besaran.
2.      Esterogen
Menstimulasi system saluran ASI untuk membesar. Tingkat estergoen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui
3.      Prolactin
Berperan dalam membesarnya alveoli dalam kehamilan. Dalam fisiologi laktasi, prolactin, merupakan suatu hormone yang disekresikan oleh glandula pituitary. Hormone ini memiliki peranan penting untuk memproduksi ASI, kadar hormone ini meningkat selama kehamilan. Kerja hormone ini dihambat oleh hormone plasenta. Perubahan peristiwa lepas atau keluarnya plasenta pada akhir proses persalinan akan membuat kadar estrogen Dan progesterone berangsur-angsur menurun sampai tingkat yang dapat dilepaskan dan di aktifkannya prolactin peningkatan kadar prolactin ovulasi, dengan kata lain mempunyai fungsi kontrasepsi. kadar prolactin paling tinggi adalah dalam malam hari dan berhenti pertama pemberian susu dilakukan pada malam hari.
4.      Oksitosin
hormone ini menegencangkan otot halus dalam Rahim pada saat melahirkan dan setelahnya. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras susu ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses  turunnya susu.
5.      Human Placenta Lactogen (HPL)
Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta banyak mengeluarkan HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, putting dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan ke 5-6 kehamilan, payudara siap memproduksi ASI namun, ASI juga bisa di produksi pada kehamilan (induced lactation).
Proses Pembentukan Laktogen
Laktogenesis I
Fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase laktogenesis I. saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu ebrupa cairan kental yang kekuning-kuningan. Pada saat itu, tingkat progesterone yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Akan tetapi , bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan kolostrum sebelum bayi lahir, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyak produksi ASI sebenarnya nanti.
Laktogenesis II
Saat melahirkan , keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormone progesterone, estrogen dan HPL secara tiba-tiba, namun hormone prolactin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal fase laktogenesis kedua
            Apabila payudara dirangsang level prolactin dalam darah meningkat, memnucak dalam periode 40 menit, da kemudian kembali ke level sebelum rangsangan 3 jam kemudian. Keluarnya hormone prolactin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI dan hormone ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasi bahwa level prolactin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi namun level prolactin rendah pada saar payudara terasa penuh. Hormone lainnya, seperti insulin , tiroksin dan prostisol , juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormone tersebut belum dilketahui. Penanda biokimiawi mengidentifikasi bahwa proses laktogenesis II dimulai sekita 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-72 jam (2-3 hari setelah melahirkan). Hal ini berarti memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan
Laktogenesis III
System control hormone endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil system control autokrin dimulai. Fase ini dinamakan laktogenesis 3. Pada tahap ini apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikin, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi mengisap, serta juga seberapa sering payudara dikosongkan.
            Produksi ASI yang rendah di akibatkan oleh kurangnya menuyusui atau memijat payudara. Apabila bayi tidak bisa mengisap ASI secara efektif, hal ini dapat di akibatkan oleh struktur mulut dan rahang yang kurang baik, teknik perlekatan yang salah, kelainan endokrin ibu (jarang terjadi), jaringan payudara hipoplastik, kelainan metabolisme atau pencernaan bayi sehingga tidak dapat mencerna ASI, serta kurangnya gizi ibu.
            Menyusui setiap 2-3 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya, menyusui,  atau memeras ASI 8 kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa-masa awal menyusui, khususnya 4 bulan pertama. Bukanlah hal yang aneh apabila bayi yang baru lahir menyusui lebih sering dari itu karena rata-rata bayi menyusui adalah 10 sampai 12 kali menyusi tiap 24 jam, atau bahkan 18 kali. Menyusui on-demand adalah menyusui kapanpun bayi minta (artinya akan lebih banyak dari rata-rata). Cara ini merupakan cara terbaik untuk menjaga produksi ASI tetap tinggi dan bayi tetap kenyang akan tetapi perlu di ingat bahwa sebaiknya menyusui di lakukan dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya dan tidak terlalu sebentar sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindmilk secara seimbang.
Penghambat produksi ASI adalah sebagai berikut:
1.      Feedback inhibitor: suatu faktor local, bila saluran ASI penuh mengirim impuls untuk mengurangi produksi. Cara mengatasi: saluran dikosongkan secara teratur (ASI eksklusif dan tanpa jadwal).
2.      Stres/rasa sakit: akan menghambat atau inhibisi pengeluaran oksitosin. Misalnya pada saat sinus laktiferus penuh/payudara sudah bengkak.
3.      Penyapihan

Kriteria yang digunakan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak adalah sebagai berikut:
1.      ASI yang banyak dapat merembes keluar melalui putting susu
2.      Sebelum disusukan pada bayi, payudara terasa tegang
3.      Berat badan bayi naik sesuai dengan umur

Tabel. Kenaikan berat badan dihubungkan dengan usia bayi
4.      Jika ASI cukup, setelah menyusu bayi akan tidur/tenang selama 3-4 jam
5.      Bayi berkemih sekitar 8 kali sehari
Dua tanda yang menunjukkan bahwa bayi kurang mendapatkan cukup ASI adalah sebagai berikut:
1.      Urine bayi berwarna kekuningan pekat, berbau tajam, dan jumlahnya sedikit. Bayi BAK kurang dari 6 kali sehari, keadaan ini menunjukkan bayi kekurangan cairan yang berasal dari ASI
2.      Perkembangan berat badan bayi kurang dari 500 gram per bulan dan ini menunjukkan bayi kurang mendapatkan asupan yang baik selama 1 bulan terakhir. Apabila diberikan ASI secara eksklusif (0-6 bulan) dapat mencukupi semua kebutuhan bayi.
Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:
1.      Stadium laktasi
2.      Ras
3.      Keadaan nutrisi
4.      Diet ibu
Pengeluaran Air Susu
Bagaimana payudara menghasilkan ASI, dimulai saat bayi mengisap payudara dan menstimulasi ujung saraf. Saraf memerintahkan otak untuk mengeluarkan dua hormone yaitu prolactin dan oksitosin. Prolactin merangsang alveoli untuk  menghasilkan lebih banyak air susu. Oksitosin menyebabkan sel-sel otot di sekitar alveoli berkontraksi, mendorong air susu masuk ke saluran penyimpanan, dan akhirnya bayi dapat mengisapnya. Semakin bayi mengisap, semakin banyak susu yang dihasilkan.
            Selama kehamilan hormone prolactin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormone estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesterone akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca-persalinan sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflex yang berperan, yaitu reflex prolactin dan reflex aliran yang timbul akibat perangsangan putting susu dikarenakan isapan bayi.
Refleks Prolaktin
Refleks prolactin adalah suatu stimuli atau perangsangan produksi ASI yang membutuhkan impuls saraf dari putting susu, hipotalamus, hipofisis anterior, prolactin, alveolus, dan tentunya ASI itu sendiri.
            Pada akhirnya kehamilan hormone prolactin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah terbatas dikarenakan aktivitas prolactin dihambat oleh estrogen dan progesterone yang masih tinggi. Pascapersalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum, maka estrogen dan progesterone juga berkurang. Isapan bayi akan merangsang putting susu dan kalang payudara karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
            Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolactin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolactin.
            Faktor pemacu sekresi prolactin akan merangsang hipofisis anterior sehingga keluar prolactin. Hormone ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. Kadar prolactin pada ibu menyusui akan menjadi normal tiga bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak aka nada peningkatan prolactin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.
            Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolactin akan menjadi normal pada minggu ke-2 - 3. Pada ibu menyusui, prolactin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan putting susu, hubungan kelamin, serta obat-obatan tranqulizer hipotalamus. Sementara itu, keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran prolactin adalah gizi ibu yang buruk dan obat-obatn seperti ergot-I-dopa. Jalannya reflex prolactin dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar Refleks prolactin (Jelliffe D.B., 1978).

Refleks Aliran (Let Down Refleks)
Refleks aliran yaitu sekresi atau pengeluaran ASI, impuls saraf, putting susu, hipofisisposterior, oksitosin, kontraksi otot polos suapaya ASI keluar. Bersamaan dengan pembentukan prolactin oleh hipofisis posterior (neurohipofisis) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini menuju uterus sehingga menimbulkan kont
raksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel mioepitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke system duktus, selanjutnya mengalir malalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi.
            Faktor-faktor yang meningkatkan reflex let down adalah melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, dan memikirkan untuk menyusui bayi; sedangkan faktor-faktor yang menghambat reflex let down adalah stress, seperti : keadaan bingung/pikiran kacau, takut, dan cemas. Jalannya reflex let down dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar Reflek let down (Jellife D.B., 1978).

            Bila ibu stress dalam menyusui, maka aka nada satu blockade dari reflex let down. Keadaan ini disebabkan adanya pelepasandari adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan vasokontriksi dari pembuluh darah alveoli sehingga oksitosin tidak dapat mencapai organ mioepitelium. Akibatnya akan terjadi penumpukan air susu di dalam alveoli yang secara klinis tampak payudara membesar. Payudara yang besar dapat berakibat abses, gagal untuk menyusui dan rasa sakit.

Skema Akibat kegagalan refleks let down (Jellife D.B., 1978).

Mekanisme Menyusui
Bayi yang sehat mempunyai tiga refleks intrinsic yang dibutuhkan agar menyusui berhasil.
1.      Refleks Menangkap (Rooting Reflex)
Refleks ini terlihat saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap putting susu.
2.      Refleks Mengisap (Sucking Reflex)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh putting. Sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi agar putting dapat mancapai palatum. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah, dan palatum sehingga ASI keluar.
3.      Refleks Menelan (Swallowing Refleks)
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap (tekanan negative) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung.
Gambar kegiatan bayi sedang menyusu (Rohde J.E, 1979).
Keterangan gambar:
A)    Putting ditarik masuk ke dalam mulut
B)    Lidah menjulur di atas gusi bawah
C)    Lidah menarik putting sehingga seluruh putting masuk
D)    Rahang menutup dengan gerakan berirama sehingga gusi menjepit ujung putting, areola mammae dan sinus laktiferus.
Pemeliharaan Laktasi
Ketersediaan ASI pada ibu menyusui berlangsung sesuai kebutuhan. Bila bayi tidak disusui, maka ASI tidak akan keluar. Makin sering bayi disusui, maka penyediaan ASI juga makin baik. Faktor penting untuk pemeliharaan laktasi adalah rangsangan dan pengosongan payudara secar semupurna.
Rangsangan
Sebagai respons terhadap pengisap, prolactin dikeluarkan dari glandula pituitaria anterior, dengan demikian dapat memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena suatu alas an tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Namun, isapan bayi memberi rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.
Pengosongan Sempurna Payudara
Sebaiknya bayi mengosongkan payudara sebelum diberikan payudara yang lain. Bila tidak bayi tidak mengosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian ASI yang berikutnya, payudara kedua ini diberikan pertama kali. Jika bayi sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian ASI berikutnya. Bila menginginkan bayi benar-benar kenyang, maka bayi perlu diberikan air susu pertama (foe-milk) untuk sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongsn sempurna pada satu payudara.
            Apaibla air susu yang diproduksi tidak dikeluarkan, maka laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena terjadi pembengkakan alveoli dan sel kerangjang tidak dapat berkontraksi. ASI tidak dapat dipaksa masuk ke dalam duktus laktiferus. Rutinitas dan pola minum ASI akan terbentuk dengan sendirinya.
Produksi ASI yang rendah dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
1.      Kurang sering menyusui
2.      Apabila bayi tidak bisa mengisap ASI secara efektif, bisa disebabkan:
a)      Struktur mulut dan rahan yang kurang baik
b)      Teknik perlekatan yang salah
c)      Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
d)     Jaringan payudara hipoplastik
e)      Kelainan metabolism atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI
3.      Kurangnya gizi ibu
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI adalah sebagai berikut:
1.      Frekuensi pemberian susu
2.      Berat bayi saat lahir
3.      Usia kehamilan saat melahirkan
4.      Usia ibu dan paritas
5.      Stress dan penyakit akut
6.      Mengonsumsi rokok
7.      Mengonsumsi alcohol
8.      Pil kontrasepsi
Air Susu Ibu (ASI)
Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung kebutuhan energu dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Kendala utama seorang ibu dalam memberikan ASI pada bayi adalah produksi ASI yang tidak lancar.
            Pada saat menyusui, sekitar 1,5 liter susu mungkin dibentuk setiap hari. Banyak zat-zat metabolic dialirkan dari ibu, misalnya:±50 gram lemak masuk susu setiap hari, dan kira-kira 100 gram laktosa, yang harus dibentuk dari glukosa hilang dari ibu setiap hari. Dua sampai tiga gram kalsium fosfat mungkin juga hilang setiap hari, dan kecuali bila ibu minum susu dalam jumlah besar dan mendapatkan masukan vitamin D yang cukup, pengeluaran kalsium dan fosfat oleh kelenjar mammae yang sedang laktasi akan jauh lebih besar daripada masukan zat-zat ini. Untuk menyuplai kalsium dan fosfat yang dibutuhkan, kelenjar paratiroid sangat membesar dan tulang secara progresif mengalami dekalsifikasi. Masalah dekalsifikasi biasanya tidak besar selama kehamilan, tetapi hal ini dapat menjadi masalah yang nyata selam laktasi.

ASI menurut Stadium Laktasi adalah sebagai berikut:
1.      Kolostrum
Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning-kungingan, lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matur. Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat. Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
2.      Air susu masa peralihan
Ciri dari air susu pada masa peralihan adalah sebagai berikut:
a.       Peralihan ASI dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur
b.      Diskresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi atau teori lain yang mengatakan bahwa ASI matur baru terjadi pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5.
c.       Kadar protein makin rendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi
d.      Volumenya juga akan makin meningkat.
Tabel Komposisi ASI menurut I.S Kleiner dan J.M Osten.
*dalam satuan gram/100 ml ASI
3.      Air susu matur
Ciri dari air susu metur adalah sebagai berikut:
a.       ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relative konstan (ada pula yang mengatakan bahwa komposisi ASI relative konstan baru dimulai pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
b.      Pada ibu yang sehat, produksi ASI untuk bayi akan tercukupi. ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai usia 6 bulan
c.       Suatu cairan berwarna putih kekuning-kuningan yang diakibatkan warna dari  garam Ca-caseinant, riboflavin, dan karoten yang terdapat di dalamnya.
d.      Tidak menggumpal jika dipanaskan
e.       Terdapat antimicrobial faktor
f.       Interferron producing cell
g.      Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan adanya faktor bifidus.
Beberapa jenis ASI adalah sebagai berikut:
1.      Kolostrum, diproduksi pada beberapa hari pertama. Jenis air susu ini sangat kaya protein dan antibody, serta sangat kental. Pada awal menyusui, kolostrum yang keluar mungkin hanya sesendok the saja. Kolostrum melapisi usus bayi dan melindunginya dan bakteri.
2.      Foremilk, disimpan pada saluran penyimpanan dan kelaur pada awal menyusui. Dihasilkan sangat banyak dan cocok untuk menghilangkan rasa haus bayi.
3.      Hindmilk, keluar setelah foremilk habis, saat menyusui  hamper selesai. Jenis air susu ini sangat kaya, kental, dan penuh lemak bervitamin; mirip dengan hidangan utama setelah  sup pembuka. Bayi memerlukan foremilk dan hindmilk.
Berikut adalah kebaikan ASI:
1.      Steril, aman dari pencernaan kuman
2.      Salalu tersedia dengan suhu yang optimal
3.      Produksi disesuaikan dengan kebutuhan bayi
4.      Mengandung antibody yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh kuman atau virus
5.      Bahaya alergi tidak ada.
Antimikrobial faktor dalam ASI, antara lain sebagai berikut:
1.      Antibody terhadap bakteri dan virus
2.      Sel (fagosit granulosit dan makrofag dan limfosit tipe T)
3.      Enzim (lisozim, laktoperoksidase, lipase, katalase, fosfatase, amylase, fosfodiesterase, alkalinfosfatase)
4.      Protein (laktoferin, B12 binding protein)
5.      Faktor resisten terhadap stafilokokus
6.      Komplemen
7.      Interferon Producing Cell
8.      Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan adanya faktor bifidus
9.      Hormone-hormon
Laktoferin merupakan suatu iron binding protein yang bersifat bakteriostatik kuat terhadap Escherichia coli dan juga menghambat pertumbuhan Candida Albicans. Laktobasilus bifidus merupakan koloni kuman yang memetabolisme laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan rendahnya pH sehinga pertumbuhan kuman patogen akan dihambat.
         ASI mengandung protein lebih rendah dari Air Susu Sapi, tetapi protein ASI ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi (lebih mudah dicerna). Rasio protein whey : kasein = 60 : 40. Hal ini menguntungkan bagi bayi karena pengendapan dari protein whey lebih halus daripada kasein sehingga protein whey lebih mudah dicerna. ASI mengandung alfa-laktalbumin, serta mengandung asam amino esensial taurin yang tinggi, yang penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin. Pada ASI juga mengandung kadar methionin dan sistin lebih tinggi bila dibandingkan dengan susu sapi sehingga sangat menguntungkan karena enzim sistionase yaitu enzim yang akan megubah methionin menjadi sistin pada bayi sangat rendah atau tidak ada. Sistin ini merupakan asam amino yang sangat pentinguntuk petumbuhan otak bayi. Selain protein, ASI juga mengandung karbohidrat, dan karbohidrat yang utama dalam ASI adalah laktosa yang nantinya difermentasi menjadi asam laktat. Asam laktat akan membuat suasana dalam usu bayi menjadi asam sehingga dapat memberikan keuntungan sebagi berikut.
1.      Penghambatan pertumbuhan bakteri yang patologis.
2.      Memacu pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organic dan menyintesis vitamin.
3.      Memudahkan terjadinya pengendapan dari Ca-caseinat.
4.      Memudahkan absorpsi dari mineral, misalnya kalsium, fosfor, dan magnesium.
Kadar lemak dalam ASI merupakan sumber kalori yang utama bayi, dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan K) dan sumber asam lemak yang esensial. Keistimewaan lemak dalam ASI adalah sebagai berikut.
1.      Bentuk emulasi lebih sempurna. Hal ini disebabkan ASI mengandung enzim lipase yang memecah trigliserida menjadi digliserida dan kemudian menjadi monogliserida sebelum pencernaan di usu terjadi.
2.      Kadar asam lemak tak jenuh dalam ASI yang terpenting adalah sebagai berikut.
a.       Rasio asam linoleik : oleh yang cukup akan memacu absorpsi lemak dan kalsium, serta adanya garam kalsium dari asam lemak akan memacu perkembangan otak bayi dan mencegah terjadinya hipokalsemia.
b.      Asam lemak rantai panjang (arachidonic dan decodexaenoic) yang berperan dalam perkembangan otak.
c.       Kolesterol yang diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf pusat dan diperkiran juga berfungsi dalam pembentukan enzim untuk metabolism kolesterol yang akan mengendalikan kadar kolesterol kelak di kemudian hari.
ASI mengandung mineral yang lengkap, walau kadarnya relative rendah, tetapi cukup untuk bayi sampai berumur 6 bulan. Jumlahnya selama laktasi adalah konstan, tetapi beberapa mineral kadarnya bergantung pada diet dan stadium laktasi. Kadar Fe dan Ca paling stabil, garam organic yang terdapat dalam ASI adalah kalsium, dan nutrium dari asam klorida dan fosfat.
Kandungan air dalam ASI mencapai 88%, yang berguna untuk melarutkan zat-zat yang ada di dalamnya dan akan merendahkan rangsangan haus dari bayi. Vitamin A, D dan C cukup, sedangkan vitamin B kecuali riboflavin dan asam patothenik adalah kurang.
Kalori ASI relative rendah, hanya 77 kalori/100 ml ASI. Sekitar 90% berasal dari karbohidrat dan lemak dari 10% berasal dari protein.




Anjuran pemberian ASI adalah sebagai berikut :
1.      Usia bayi 0-6 bulan.
ASI eksklusif memenuhi 100% kebutuhan.
2.      Usia bayi 6-12 bulan.
ASI memenuhi 60-70% kebutuhan, perlu makanan pendamping ASI yang adekuat.
3.      Usia > 12 bulan.
ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan, ASI tetap diberikan untuk keuntungan lainnya.
Pengaruh Waktu pada Komposisi ASI
ASI menit pertama lebih cepat encer, kemudian akan lebih kental, ASI pada menit terakhir mengandung lemak 4-5x dan protein 1,5x lebih banyak dibandingkan dengan ASI menit pertama. Komposisi ASI 15 menit pertama pada saat bayi menyusu adalah sebagai berikut:
1.      5 menit pertama mendapatkan:
a.       60% total volume ASI
b.      60% total protein ASI
c.       60% total karbohidrat ASI
d.      40%total lemak ASI
e.       50% total energy ASI
2.      5 menit kedua mendapatkan:
a.       25% total volume ASI
b.      25% total protein ASI
c.       25% total karbohidrat ASI
d.      33% total lemak ASI
e.       25% total energy ASI
3.      5 menit terakhir adalah sisanya.
Volume ASI akan menurun sesuai dengan waktunya, seperti berikut ini:
1.      Tahun pertama            : 400-700 ml/24 jam
2.      Tahun kedua               : 200-400 ml/24 jam
3.      Sesudah itu                 : sekitar 200 ml/24 jam
Pengaruh Individu terhadap Komposisi ASI
Kenaikan jumlah paritas ada sedikit perubahan produksi walaupun tidak bermakna, yaitu sebagai berikut:
1.      Anak pertama  : jumlah ASI + 580 ml/24 jam
2.      Anak kedua     : jumlah ASI + 654 ml/24 jam
3.      Anak ketiga     : jumlah ASI + 602 ml/24 jam
4.      Anak keempat : jumlah ASI + 600 ml/24 jam
5.      Anak kelima    : jumlah ASI + 506 ml/24 jam
6.      Anak keenam  : jumlah ASI + 524 ml/24 jam
Beberapa manfaat dari menyusui adalah sebagai berikut:
1.      Manfaat bagi bayi:
a.       komposisi sesuai kebutuhan
b.      Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan
c.       ASI mengandung zat pelindung
d.      Perkembangan psikomotorik lebih cepat
e.       Menunjang perkembangan penglihatan
f.       Memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak
g.      Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat
h.      Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri
2.      Manfaat bagi ibu:
a.       Mencegah perdarahanpascapersalinan dan mempercepat kembalinya Rahim ke bentuk semula
b.      Mencegah anemia defisiensi zat besi
c.       Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil
d.      Menunjda kesuburan
e.       Menimbulkan perasaan dibutuhkan
f.       Mengurangi kemungkinan kanker payudara dari ovarium
Skema Interaksi hormone-hormon dan faktor lainnya dalam proses menyusui (dikutip dari Lawrence RA,1980).



Klik link untuk menonton video Youtube terkait postingan!

Mekanisme Dalam Menyusui Bayi